Bisakah kita bilang “SAY NO TO PLASTIC ?”

Pada kenyataannya tidak! 

Plastik adalah produk yang luar biasa, ringan, kuat, dan tidak hancur beratus tahun.

Pernakah terlintas sebelumnya kemana plastik akan berakhir?

Setiap negara berbeda-beda tergantung keadaan:

  1. Geo EnvironmentSampah di Indonesia berakhir di TPA !!! Maka semua sampah harus dapat terurai.

    Negara kita lembab, dimana matahari bersinar sepanjang tahun, dengan area yang sangat luas dan terdiri dari berbagai pulau dan terletak di katulistiwa sebagai  negara tropis.

  2. Geo SosialPendapatan masyarakat kita masih rendah dibandingkan Eropa, Amerika, Jepang, Korea dan negara maju lainnya.

    Hampir 50% atau lebih dari penduduk kita masih di bottom of the pyramid, hanya lulusan SD dan SMP, sehingga kurang pemahaman/pengertian tentang jenis plastik dan akibatnya.

    Secara social atau kebutuhan masyarakat, apa yang diberikan ke masyarakat bawah harus sesuai dengan kemampuan serta kesediannya.

  3. Geo Ekonomi 

    Sementara solusi yang mudah dan tersedia saat ini yang sesuai dengan jangkauan masyarakat adalah OXO.

    Kemungkinan 10 – 20 tahun ke depan, dimana masyarakat sudah paham dan terinformasi dengan baik, maka mungkin akan bergeser ke lain jenis plastic. Dimana tentunya para industry dan researcher tidak akan berhenti disini untuk terus mengembangkan inovasi dengan memperhatikan isu lingkungan.

  4. Geo PolitikalSecara politis, kondisi Indonesia tidak seperti negara maju, dan harus dapat menyelesaikan berdasarkan kemampuan masyarakat bukan keinginan/kehendak negara maju. Oleh karena itu, seharusnya memikirkan kemampuan masyarakat umumnya.

    Jangan Indonesia dijadikan ajang politik bagi bisnis atau pedagang dari luar negeri dengan aturan negaranya yang jauh lebih maju. 

SOLUSINYA

Kita butuh mensosialisasikan, mentransformasi masyarakat akan jenis-jenis plastik, agar konsumen yang memilih sesuai dengan kemampuannya.

Pengguna kantong plastik relatif masih lebih sedikit daripada kemasan produk seperti : mi instan, shampoo, kopi dan lain-lain. Ini permasalahan yang besar bagaikan puncak gunung es.

Solusinya adalah melakukan edukasi ke masyarakat untuk mengurangi sampah plastik, dimana semuanya harusnya bio-degradable dan sesuai kemapuan ekonomi. Mulai dari desa sampai kota, dari pantai sampai ke gunung, dari peternakan sampai ke pertanian. Kenyataan di lapangan, “OXO” adalah salah satu solusi untuk kondisi saat ini.

Bisakah dibayangkan satu bungkus nasi, yang mana harga nasi cuma Rp. 5.000,– dibungkus dengan bungkusan seharga Rp. 20.000,–. Apakah masuk akal ?

Jika dilarang, apa pengganti pembungkus nasi itu? Apakah dapat digantikan dengan daun pisang, daun jati ataupun rantang?

Keadaan di lapangan sangat sedikit penjual plastik yang ramah lingkungan, yang terjadi masih “B to B” (Business to Business).

Masyarakat pelaku paling besar dibiarkan tidak di edukasi mengenai hal ini, yang ada peraturan pemerintah, dan peraturan tanpa sosialisasi ke masyarakat umumnya, terutama masyarakat bawah.

Perlu terobosan dan gerakan untuk menginformasikan serta memetakan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Terlalu banyak hoax mengenai pasltik, karena semua berlatar belakang untuk bisnis dan keuntungan semata, tapi tidak merubah perilaku masayarakat dalam memilah dan mengurangi sampah.

Sebagian peraturan tanpa transformasi tidak akan berdampak apa-apa dan sukses.

Memilih plastik yang tepat saat ini. Di pasar terdapat berjenis-jenis plastik dengan teknologi berbeda, antara lain :

Ecoplastic : sustainable, prosesnya mahal, mudah terurai, harga mahal

Enviplast : Mudah larut dan masih mahal, serta ada PVA

OXO : tidak sustainable, proses mudah, dapat terurai (18 – 25 bulan), serta harga terjangkau

Tanpa edukasi dan transformasi sebuah inovasi adalah kesia-siaan. Problem tetap ada dan tidak pernah usai. Kita tidak bisa ber-status quo, harus memilih.

Dengan itu kami, Gerakan PASTI mengadakan Green Initiative Award 2020 sebagai ajang sosialisasi dan edukasi kepada industri dan masyarakat untuk sadar sampah dan bijak dalam menggunakan plastik.

Acara sosialisasi ini kami adakan pada 16 Januari 2020 lalu, kami mengundang para Industri F&B, rumah sakit, pusat perbelanjaan, perusahaan Transportasi, hingga end user.

Dalam sosialisasi ini kami meluncurkan sayembara Green Initiative Award 2020 yang dapat diikuti oleh 4 kategori industri yaitu, Hotel, Rumah Sakit, Kantor dan Retail. Sayembara ini diadakan untuk mengukur suatu fasilitas sudah Green atau belum, dinilai dari beberapa aspek seperti:

  1. Penggunaan Amenitas sehari-hari
  2. Pembuangan / pengaturan sampah
  3. Green Procurement
  4. Dsb

Para industri memliki waktu sebulan untuk mengisi form sayembara dan dikirimkan kepada kami untuk dilakukan penjurian oleh juri. Green Initiative Award diadakan pada 19 Februari 2020 di Jakarta Design Center.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *